Rabu, 26 Desember 2012

REVIEW: PEMBAHASAN (Jurnal 2)

Diposting oleh Taty saeng G di 22.15

REVIEW

PENGEMBANGAN KOPERASI INDONESIA SUATU ORIENTASI DARI KONDISI SOSIAL, BUDAYA DAN EKONOMI DALAM RANGKA GLOBAISASI
Oleh
Usman Moonti

PEMBAHASAN

NAMA       :  TATY HARLINI MANURUNG
NPM          :  28211269


Nilai-Nilai dan Prinsip-Prinsip Koperasi

Menurut statement yang dikeluarkan ICA (International Cooperative Alliance), koperasi didasarkan pada nilai-nilai menolong diri sendiri, swadaya, demokrasi, persamaan, keadilan dan kesetiakawanan, mengikuti tradisi para pendirinya. Anggota-anggota koperasi percaya pada nilai-nilai ethis dari kejujuran. keterbukaan, tanggungjawab sosial Berta keperdulian terhadap orang-orang lain.
Nilai-nilai tersebut merupakan rumusan barn setelah perdebatan selama beberapa tahun dikalangan organisasi yang anggotanya diseluruh dunia. Munker (2002) berusaha mengklarifikasi konsep nilai im pada penekanan swadaya, yang dapat disalah artikan sebagai membenarkan egoisme kelompok diimbangi dengan nilai-nilai etis tentang kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab sosial dan perhatian terhadap sesama.
Prinsip-prinsip koperasi juga mengalami perubahan walau tampak mirip dengan prinsip ICA terdahulu. Prinsip-prinsip yang berhasil dirumuskan pada kongres di Manchester 1995 adalah:
  1.  Anggota sukarela
  2. Pengendalian oleh anggota-anggota secara demokrasi
  3. Partisipasi ekonomi anggota
  4. Otonomi dan kebebasan
  5. Pendidikan, pelatihan dan informasi
  6. Kerjasama diantara koperasi
  7. Kepedulian terhadap komunitas

Sebelumnya prinsip-prinsip koperasi dikembangkan oleh koperasi moderen pertama didirikan tahun 1944 oleh 28 orang pekerja Lancashire di Rochdale. Prinsip tersebut dikenal dengan tujuh prinsip koperasi.
  1. Keanggotan terbuka
  2. Satu anggota, satu suarn
  3. Pengembalian (bunga) yang terbatas atas modal
  4. Alokasi SHU sebanding dengan transaksi yang dilakukan anggota.
  5. Penjualan tunai
  6. Menekankan pada unsur pendidikan
  7. Netral dalam agama dan politik (Ropke 2000 hal : 18)

****

Permasalahan Koperasi Indonesia

Di Indonesia, kondisi koperasi tidak menggembirakan. Di antara tiga pelaku perekonomian, koperasi adalah sektor yang paling memprihatinkan, lebih blinik lagi Kasiyanto beranggapan bahwa koperasi sebagai anak lemah mental. Julukan seperti itu, sah-sah saja tetapi terapi yang digunakan hendaknya tidak dilakukan oleh semangat yang bermental lemah. Pembentukan BUUD (Badan Usaha Unit Desa), Koperasi Kredit (Kopdit) dan KUD (Koperasi Unit Desa) yang dipelopori oleh pemerintah dan LSM bukan membantu masyarakat melainkan mengganggu. Dosa yang paling besar yang dilakukan oleh KUD yang sudah memegang monopoli dipedesaan adalah sampai saat ini belum dapat mengangkat nilai tukar petani, paling sedikit sesuai dengan kenaikan inflasi (lihat gambar 1). Lebih kejam lagi, KUD menjadi ujung tombak pedagang semakin memeras petani.
Fenomena lain yang tidak perlu dibuktikan secara empiris, adalah ketika pemerintah menghimbau BUMN untuk membantu usaha kecil dan Koperasi bermunculanlah usaha-usaha flktif dan koperasi dadakan yang ingin memanfaatkan dana tersebut sebagai suatu "rezeki bersama". Masalah lain juga muncul ketika pemerintah memberikan kredit usaha tam. Departemen koperasi (Depkop) diberi wewenang sebagai excecuting dengan kekuasaanya lebih leluasa memberikan kredit kepada mereka yang meminta padahal Depkop sendiri sebagai pembina sekaligus sebagai pelaksana KUT. Minimnya pengalaman dan perangkat Depkop dalam penyaluran dan pemberian kredit menyebabkan banyak kredit yang diberikan tidak dapat dikembalikan (kredit macet)
****

Jalan Keluar dari Permasalahan Koperasi Indonesia

Wajah perekonomian Indonesia memang tidak terlalu indah. Keinginan untuk merawat dan menata dapat menyelamatkan koperasi dari masalah-masalah yang dihadapi. Beberapa Jalan keluar dapat dilakukan dengan menganalisis pokok-pokok persoalan pada setiap komponen lingkungan koperasi tersebut. Masing-masing komponen terdiri atas komponen pertama nilai dan prinsip mempakan cerminan kepribadian koperasi. Kedua, komponen pemerintah yang dijabarkan melalui kebijakan dan pengaruhnya terhadap keberadaan koperasi. Komponen ketiga adalah anggota yang melandasi terciptanya koperasi dan komponen terakhir adalah kepengurusan sebagai sebuah motor yang akan menggerakkan koperasi.
****

Perilaku dan Budaya Organisasi Koperasi

Walaupun koperasi memiliki ciri organisasi yang berbeda dan organisasi lain, tetapi aspek perilaku dan budaya organisasi akan sama matchingnya jika diterapkan dalam organisasi apapun jenisnya. Beberapa bukti empiris menyatakan bahwa ada hubungan yang erat antara Cooperate Culture dan Kmierja (Kottler dan Hesket : 1997). Bahkan, budaya juga sangat berpengaruh dalam meningkatkan konsistensi seseorang berperilaku (Stephen P. Robbins dalam Nadraha, 1997). Dengan demikian, budaya menjadi faktor penting untuk meningkatkan kinerja seseorang dalam organisasi.
Lain halnya dengan Covey, la beranggapan ada tujuh kebiasaan agar individu maupun organisasi mencapai sukses dalam mengembangkan misi dan visi vang dituju. Tujuh kebiasaan tersebut meliputi
  1. Arti penting bersikap pro-aktif, tidak sekedar re-aktif
  2. Merujuk pada tujuan akhir, fokus yang jelas
  3. Mendahulukan yang utama, secara prioritas yang tegas.
  4. Berpikir menang-menang; resolusi konflik yang bersifat tidak menjatuhkan lawan
  5. Berusaha mengerti dahulu baru dimengerti toleransi kepada lawan bicara/mitra
  6. Mewujudkan sinergi, menjalin kolaborasi dalam bentuk team work
  7. Mengasah gergaji dengan senantiasa meningkatkan ilmu dan wawasan baru

Pikiran Covey memutar persepsi dahulu budaya adalah "akibat", sekarang dijadikan "sebab" budaya perusahaan menjadi salah satu alai kunci atau penyebab tumbuhnya perusahaan yang sehat. Budaya perusahaan menjadi strategi, mater mengubah sikap dan perilaku Berta sebagai sarana untuk mencapai efisien dan penyesuaian dengan tuntutan zaman yang senantiasa berubah.
Perubahan paradigms dan pemanfaatan budaya perusahaan adalah salah satu solusi dalam menghadapi zaman yang kian kompleks. Budaya perusahaan juga terkait erat dalam program organization development, berhubungan dengan program, intervensi keorganisasian, struktur organisasi dan pada akhirnya menyentuh aktivitas perencanaan SDM, pengembangan, pendidikan dan pelatihan agar SDM memiliki nilai budaya yang kuat, adaptif dan sesuai dengan tuntutan bisms di era global (Syarwahani dan Priyohadi : 2001 )
****

0 komentar:

Posting Komentar

 

Taty Harlini Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos